As I walk along the time line, I am carrying a pencil behind my back and in front of me ,

I would illustrate it if I got the time, but you can imagine a compass, but with two pencils

(compass for making circle, not the one that shows direction)

I left a mark of me along the time line, all by trying to trace my future.

Although I have a compass (for direction) It will be vain if I don’t know how to use it, or where I want to go.

Iklan

New Mutants

I watched the trailer of X-Men : the new mutants…It looked like a horror film. I got mixed feeling about the movie. I think this one will be darker the the previous films.

But the purpose of me writing this is, why does X-Men appeal to me so much?
I think I like the fact that those mutants are weird, rejected, but actually superior over humans. They have cool superpowers, and an adventurous life. But that’s the thing about fictions right? Too good to be true, too fantastic, too adventurous, too dangerous too be true (tragedy movies). It’s all a realm I could only reach when I staged a daydream. I could only imagine what superpowers I’ll have if I am a mutants, and what kind of heroic acts I’ll have.

maybe some people want to to back off after what they see in profession class, some people get excited of what lies ahead, and some, brace themselves to go through it.

But for me, who’s already decided that this is not my thing since day one, all that’s left are doing my best, and keep waging war with myself to push myself out of this battlefield.

I know my feelings won’t be reciprocated, but at least I’ll used the time that’s left to see him. And maybe, when he graduate, then I graduate, I could look back and said that I don’t regret liking him because he is nice and attractive and diligent and I have used all the chances I could grasp to see him.

I don’t think I like him THAT much, my feelings were like a wet wipes, not really wet, but definitely not dry. Still, I know I’ll be a bit sad if he graduates.

It’s funny, the way we live, me and my best friends, I used to doubt the reason of my friendship in high school, so if you asked me back then who your best friend was, I can’t answer that. (I do have better friends , though). Now I can say out loud that the people I spend time with are my best friends. The one who are close to me, and the ones who we rarely appear in group chats.

galau tapi marah

meski hidup itu fana,
waktu itu terbatas.

meski takdir kita yang ukir,
peluang bukan kita yg atur

meski yang hidup pasti mati,
bukan akhir yg penting,
tapi sekarang

makanya kerjain tugasnya goblokk

BE HARD ON YOURSELF because life is hard

Be hard to yourself now before the world be hard to you then

-sd

 

It’s my self-made quote. It’s supposed to be my new mantra.
Each and everyday must be started with those words in mind. The trouble is, although I manage to strung those words yesterday, and have it in my head ’till today I don’t move according to my mantra.

There are some things I regret, some things I don’t like. But those “some-things” , there are a lot of them, and I can easily trace it back to me, so 99% of my regrets are coused by myself

I don’t want to be said resembling him, he is not pretty

I don’t want to be told sexy, I want slender and slim

I don’t want to run on the same place, I want that for once, my feelings are reciprocated, at least I could talk to  him and be a friend, instead a shadowing presence.

But my future is at every end of my sentence. I am the one who supposed to direct it, but I kept losing grasp of me.

This moment is the moment that matters.

This Calls For Gratitude

Praise the Lord, that’s all I can say

I thought I won’t pass that course, but I do.
And so far, my close friends are doing good too.

I’m glad for them.
My heart prays that I can do better and better on the next semester, and that my fellow friends can also do better.

I….I…..am very grateful.

Letters- main ideas

I am sleepy so I’ll put on a quick guide

about how uncertain I am in this situation of not knowing where i will be years from now

about the realization that our family might be in tight money

about my feeling of inferiority in every things

Cēterīs pāribus

Cēterīs pāribus, all other things being equal.

I learned it first in Economy, back in Junior High. I know it simply as the law of supply and demand. Where there is high demand, the prices go up, where there is less demand, prices go lower. Somehow today it crossed my mind that perhaps, it could be applied to something else as well. So here’s a short writing.

 

Title :  Cēterīs pāribus

 

The silent Catherine knows it, something common will not worth much. Just like her apologies, and the word sorry. She is an overthinker and a klutz , the word “sorry” automatically blurted out, no matter whose fault it is. Say sorry first, just in case. On the contrary, the word she never use is hate. It is too strong, too hurtful. 

(Catherine is a shy, oversensitive, girl, she yearn for connection but very afraid to speak up. It resulted with her feeling distant with others, while simultaneously blaming herself for the lack of courage)

“If you don’t reach out, you’ll never get it”

Jared’s feelings are all honest. Whatever he feels, he shows. He is a ball of fire that’s quick to burn, but also quick to cool. His mouth often faster than his brain, and he have considerable ego , so the word sorry rarely crossed his lips.

plot plan

  • they met
  • they somehow are required to interact
  • setting : school
  • misunderstanding and fight occur,
  • climax : further increased by their perception of the words they use, “sorry” , etc
  • solution

 

Cerpen

This is one of the short story I really like, the beautiful wording, honestly I thought the topic was so-so because teenage magazines often posted short stories with themes like that. What I really love is the way the author decide to use Einstein’s Postulate as analogy.

The link to the short story post are below : all credits goes to the original author

http://www.kemudian.com/node/252471

Postulat Einstein

Oktober 2009
Guru fisika berkumis tebal ini sungguh menyebalkan. Berkali-kali menjelaskan mengenai postulat Einstein yang tak kumengerti, “Kebenaran itu relatif. Tidak ada yang benar-benar benar dan tidak ada yang benar-benar salah.” Begitu ucapnya berulang kali.
Kalau begitu, aku tidak benar-benar salah ? begitu juga denganmu.

November 2009
Kita sama-sama diam tak bersuara. Meski aku duduk di ujung depan dan kamu di ujung belakang. Kita sama-sama tahu, meski tanpa surat bermaterai, bahwa mengeluarkan suara akan menghancurkan hidup kita. Cita-cita, keluarga, dan citra di mata umum dipertaruhkan. Kita sama-sama rugi.
Tapi setelah kuhitung-hitung. Kerugianmu hanya 0.5%. Kerugian karena kehilangan sperma jahanam itu untuk secara gratis kau berikan padaku. Dan 99,5% sisanya adalah kerugianku. 99,5% kali 270 hari ditambah berjuta kali kebohonganku. Hanya untukmu, sayang !
***
Desember 2009
Bukankah 5 bulan lagi kita UN ? kamu ingat ? tapi alih-alih belajar kimia untuk UN aku justru mengingatmu. Mengingat perjalanan cinta kita, tak semulus dan sesempurna sinetron memang. Tapi ini…cinta kita.
Pertama aku mencintaimu. Entah sejak kapan, semuanya muncul begitu saja.
Kita satu kelas, dipisahkan jarak bangku-bangku kelas jahanam itu. Tapi aku tahu, kau sering diam-diam melirikku. Karena akupun melakukan hal yang sama. Kamu tahu sayang, gadis remaja sepertiku suka dengan cowok misterius sepertimu. Membuat rasa ingin tahu kami makin membuncah. Dan kutebak kau juga suka gadis sepertiku.
Lalu kita saling bertukar pandang, saling melempar senyum, berceloteh seperti burung beo, bercanda tak keruan waktu kau menemaniku menunggu jemputan, hingga kita tak dapat dipisahkan.
Tentu. Tentu saja, tak ada yang tahu. Tidak orang tua kita tidak juga teman-teman kita. Karena kita sudah punya pilihan masing-masing. Tapi, kebenaran itu relatif bukan ? dan kita benar sayang. Lagipula, cinta tak pernah salah.
Biarlah Siska tetap mencintaimu dan Rangga tetap mencintaiku. Meski diam-diam cinta itu menyakitkan.
***
Sayangku, ini aku yang mencintaimu. Mencintai baik kekurangan maupun kelebihanmu. Mencintaimu terasa lebih lama daripada hidupku yang baru belasan tahun. Layaknya postulat Einstein, waktu relatif terhadap setiap pengamat. Kamu relatif baik terhadapku, akupun relatif baik terhadapmu. Aku suka sekali postulat ini. Segalanya terasa abu-abu.
Begitu juga saat kuputuskan untuk mengijinkanmu, kau wisuda aku.
Sayang, aku lupa. 5 bulan lagi juga akan ada penghuni baru di dunia ini, yang mirip sepertimu.
***
Januari 2010
Aku memikirkan cita-citaku. Guru, dokter, polisi.
Guru ? bagaimana bisa menjadi guru untuk muridku jika aku tak bisa mengajari diriku sendiri ? salah. Aku bukan contoh yang baik untuk murid-muridku.
Dokter ? bagaimana bisa menjadi dokter kalau tiap malam kupukuli daging hidup dalam perutku ini ? bukan pilihan tepat. Melanggar etika kedokteran.
Polisi ? apa aku layak menjadi polisi yang sudah melanggar hukum Negara ini ? tidak. Pilihan terakhir hanyalah ibu rumah tangga. Itu tak mungkin. Seorang Ibu harus sayang pada anaknya bukan ? sama sekali bukan aku.
***
Tiap malam aku berdo’a pada Tuhan. Sebobrok apapun aku, aku tetap hamba-Nya. Aku berdo’a semoga Tuhan menghilangkan sesuatu di perutku ini. Atau paling tidak buat rohnya tak sanggup berjanji pada-Mu untuk menjadi manusia dan menjadi anakku. Hingga Kau angkat rohnya dari perut buncitku. Itu tidak terjadi !
***
Februari 2010
Aku tak menyangka berbohong akan semudah ini. Santet. Satu kata itulah yang meluluhkan seisi ruang guru. Menyebar cepat ke seluruh sekolah hingga mereka mengasihaniku.
Lusi, siswa berprestasi yang terkena santet orang tak bertanggung jawab hingga perutnya membesar. Ada silet di tubuhku. Itu yang aku katakan pada mereka. Menggelikan. Ya, aku telah disantet. Olehmu, sayang.
Siswa macam apa aku ini yang berbohong pada guruku sendiri ? bukan. Guru macam apa mereka yang bisa dibohongi anak ingusan macam aku ? aku hanya tersenyum getir. Pembenaran atas diriku sendiri. Sekali lagi kupakai postulat Einstein, kebenaran itu relatif.
Untukku saat ini : aku benar.
Aku benar saat aku berkeliling lapangan mengomando pasukan paskibra untuk latihan mengikuti lomba. Aku benar saat aku berjalan beriringan dengan Rangga layaknya Romeo dan Juliet. Aku benar saat seharian berkeliling Mall dengan teman-temanku hanya untuk sebuah kesenangan. Aku salah ! saat kurasakan perut ini membesar. Aku salah !
***
Sayang, kamu masih di sana ? berkumpul dengan teman-temanku tanpa rasa bersalah. Tak lagi kau menyapaku, tersenyum, ataupun menatapku. Kau menghindar ! enak sekali menjadi laki-laki. Membuang-buang barang berharganya tanpa ada harga sama sekali.
Sayang, aku tahu kamu sayang sekali denganku. Kamu hanya takut. Tapi sayang, aku menderita di sini. Aku ingin menangis di bahumu selama mungkin, aku ingin melihat senyummu, aku ingin kau mengelus lembut perutku. Sayang, kau tak melakukan itu.
Sayang, bahkan Rangga pernah mencoba memegang perutku yang dihuni ‘silet’ tapi kucegah sebelum berhasil. Sayang, perlakuan Rangga padaku membuatku makin muak padanya. Tapi tidak padamu, aku sayang padamu.
Kau tak menarik tanganku lalu mencekikku untuk memaksaku menggugurkan kandungan ini seperti di berita kriminal. Tapi kamu tak juga menarik tanganku lalu membawaku ke rumah untuk kita menikah seperti di sinetron. Kamu hanya diam. Karena kamu tahu, aku tak akan berbicara satu patahpun tentang kamu. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada harus dibakar hidup-hidup.
***
Maret 2010
1 bulan menjelang UN. Aku frustasi. Matematika mengingatkan hari kelahiran daging bernyawa ini. Biologi mengingatkan nista perbuatanku bersamamu. Fisika mengingatkan akan massaku yang bertambah juga kumpulan atom-atom mikro yang bergejolak dalam perutku. Semuanya mengingatkanku padamu ! hanya padamu ! sayangku.
***
April 2010
Sayang, semuanya sudah berakhir. Di sini, bulan ini. Dua hari sebelum UN. Mereka mengadili kami, aku dan Rangga. Di ruang kepala sekolah dikelilingi guru-guru yang menatap jijik padaku. Melemparkan hasil USG di depan wajah kami. Laki-laki, bayinya laki-laki.
Kupikir Rangga akan menghajar atau membunuhku bila perlu. Tapi dia tidak melakukan itu, sayang. Dia diam. Lebih diam dari patung burung garuda di atas kepalaku. Aku bisa saja mengatakan ini anakmu bukan ? tapi tidak kukatakan. Mulutku kelu. Aku juga ikut diam.
Sayang, cintaku padamu ternyata salah. Salah besar. Postulat Einstein itu salah. Ada yang benar-benar salah di dunia ini. Itu saat aku mencintaimu. Cinta itu salah.
Karena cinta itu aku tak bisa meneruskan cita-citaku. Karena cinta itu kedua orang tuaku tak lagi menatapku dengan tatapan penuh bangga. Karena cinta itu aku menghancurkan cita-cita Rangga. Lebih hancur dari gelas kaca yang terlempar dari lantai 25. Kami, kami yang hancur. Bukan kamu, sayang.
***
November 2010
Jika mencintaimu adalah suatu penghinaan. Maka akan kurajut hinaan itu dan kuhiasi dengan senyuman. Supaya orang tahu, betapa berharganya cintaku.
Sayang, tahukah kau siapa yang menghapus air mataku selama ini ? mengenggam tanganku, mengelus perutku, melantunkan adzan pada bayi laki-lakiku, menjejakkan kakinya di belakang jejakku. Rangga. Dia Rangga.
Rangga tak pernah bertanya siapa Ayah bayi laki-laki ini. Rangga tak pernah berhenti tersenyum, Rangga tak pernah mengutukku, Rangga tak pernah meninggalkanku, dan Rangga, tak pernah menyalahkan cintaku padamu.
Aku masih ingat jelas bagaimana perlakuan Rangga padaku setelah kita dikeluarkan. Seharian dia menggenggam tanganku, membawaku keliling Surabaya agar aku bisa tersenyum, mengajakku menemui orang-tuaku dan mengakui semuanya. Dan dia, mempersilahkan dirinya untuk menikahiku.
Sayang, cintaku padamu tak pernah salah. Mencintaimu adalah suatu pembelajaran. Atas kehidupanku juga kehidupanmu. Pembelajaran bahwa kebenaran ataupun kesalahan tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Sudut yang buruk atau sudut yang baik.
***
Setelah menutup dengan cepat diary hijau itu tiba-tiba Siska merasa mual. Dosen bermata sipit yang sedang menjelaskan arti filsafat tak Siska hiraukan sama sekali. Rasanya nasi goreng tadi pagi merangkak naik dari perut Siska. Siska melirik untuk beberapa detik diary hijau yang ada di depan mejanya. Ingin rasanya merobek, menginjak, dan melempar jauh-jauh diary sialan itu. Kenapa Lusi harus memberikan diary ini padanya ?

 

LT032. * Postulat Einstein *

Konon kata Einstein :
“Kebenaran itu relatif.
Tidak ada yang benar-benar benar
dan
tidak ada yang benar-benar salah.”

Kataku berdasar pada hitung-hitung :
(di luar kebersamaan gelinjang kejang)
“rugi”
0,5 % beludak lincah empat miliaran “kecambah”
dengan 99,5 % dikali 270 hari kubawa jutaan sel yang terus membelah
aku yang terbelah-belah melebar papar
mengikat udara massa bertambah
bagaimanakah denganmu, apakah kepalamu ikut terbelah?
good!

ini bulan ke-empat :
terhitung sejak kumulai suka abu-abu
memostulat terasa ringan tanpa beban
sama halnya
ketika kubuka dengan sukarela, pintuku
seruak kaubawa toga mewisudaku
:
atas nama cinta kelabu
kebenaran terasa benar-benar benar
menyurutkan teori van hamel yang sudah di luar kepala

kamu dimana sayangku?
lima bulan lagi,
aku ingin engkau menerima dengan tanganmu sendiri
wujud baru serupa kamu,
hasil pemasukanmu, ke dan dari bawah pusarku
( bagian tubuh yang paling candu kita rambahi pasca wisuda)
bukan dia!
yang tetap tak peduli siapa ayah buncit perutku
menggamit sumpah serapah dan maluku
menumpah ke penghulu

sebulan menjelang UN :
kangen sayang, aku butuh kamu
aku di puncak mati kutu
matematika, mengingatkanku atas hitung-hitung
kamu yang untung jadi laki-laki, habis tumpah, terserah dadah
biologi, membuat pangkal pahaku jadi gatal-gatal
lalu fisika, seberapa besar lagi aku melembung
terpojok ke bangsal murung

2 hari menjelang UN :
semua sudah berakhir sayang
DO itu ujung dari wisudamu yang dulu kuanggap benar-benar benar
(sebab sisi benar pada saat itu memang amat nikmat tuk terlewat)
dan sekarang
cintaku padamu ternyata salah.
salah besar!
Postulat Einstein itu salah.
ada yang benar-benar salah di dunia ini.
itu saat aku mencintaimu.
cinta itu salah.

 

 

 

 

personal addition , Einstein’s quotes I found on a blog

“Reality is merely an illusion, albeit a very persistent one.” -Albert Einstein. 

Viewpoints

I have just finished “Lukisan Hujan” today, and I wonder why I lost enthusiasm on books, on love stories. I read it until the end despite not really hooked. Either the book was kind of monotone or it’s me that’s starting to be duller.

Anyhow,, the meaning of this post title is:
I suddenly thought the writers for each character should be of a matching age. A ten year old character written by a ten year old. To make it authentic. Just like manga, barely teenage girls and boys already behave like grown ups, the way of speech, knowledge and fighting skill, etc.

Because I was comparing myself with the novel character, and although she is realistic enough, I can’t shake off the thought that some characters on some novels or manga didn’t act they age.

And I wonder. When adults try to portray kids or teenage, no matter how expert they are in taking the character’s point of view, there have to be some crack.

Concepts are brewed in mind after all, and some adult mindsets will seep into the character, even a child or teenager character. And I suppose, that’s the reason children are so sophisticated, so intricate and advanced. They are sometimes felt like rushing to grow up.

But then again, mindsets between real-life 10-year-old-children varied very greatly.